Sabtu, 18 Juli 2009

“PENGARUH KOMPETENSI GURU DAN KETERSEDIAAN SARANA PRASARANA TERHADAP BUDAYA KERJA”

ABSTRAK

Tesis dengan judul “PENGARUH KOMPETENSI GURU DAN KETERSEDIAAN SARANA PRASARANA TERHADAP BUDAYA KERJA” 2009.

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh : 1) Kompetensi guru masih perlu peningkatan terus menerus sehubungan dengan adanya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang menitik beratkan pada kemampuan guru dalam merencanakan dan melaksanakan proses belajar mengajar di Sekolah, sehingga akan berpengaruh pada budaya kerja guru di sekolah; 2) Masih banyak sekolah yang masih membutuhkan sarana dan prasarana, sehingga sangat berpengaruh pada peningkatan budaya kerja di suatu sekolah; 3) Budaya kerja akan banyak dipengaruhi oleh adanya sarana prasarana dan kompetensi guru.

Berdasarkan permasalahan tersebut maka penulis membuat rumusan masalah 1) Apakah kompetensi guru berpengaruh terhadap budaya kerja ? 2) Apakah ketersediaan sarana prasarana berpengaruh terhadap budaya kerja? 3) Apakah kompetensi guru dan ketersediaan sarana prasarana secara bersama-sama berpengaruh terhadap budaya kerja ?.

Untuk menjawab permasalahan tersebut maka penulis menggunakan metode penelitian deskriptif analisis dengan pendekatan kuantitatif yang berkaitan dengan studi korelasional, yang diharapkan mampu menjawab permasalahan yang diteliti. Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik analisis data melalui uji koefisien korelasi product moment, uji determinasi dan uji hipotesis dengan menggunakan uji t.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka penulis menyimpulan sebagai berikut :

1. Terdapat pengaruh kompetensi guru terhadap budaya kerja sebesar 44,4% artinya semakin baik kompetensi guru dalam melaksanakan pekerjaannya maka semakin meningkat budaya kerja di sekolah tersebut.

2. Terdapat pengaruh ketersediaan sarana prasarana terhadap budaya kerja sebesar 57.3 %, hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin tersedia sarana prasarana secara memadai maka budaya kerja di sekolah akan meningkat.

3. Terdapat pengaruh kompetensi guru dan ketersediaan sarana prasarana terhadap budaya kerja, sebesar 64.4% artinya semakin baik kompetensi guru dan semakin tersedia sarana prasarana yang memadai maka budaya kerja akan meningkat.

Kata kunci : Kompetensi guru, Ketersediaan sarana prasarana dan Budaya kerja

Sabtu, 11 Oktober 2008

Keadilan Kompensasi Dalam Manajemen Organisasi

Kompensasi sebagai balas jasa yang diberikan organisasi/perusahaan kepada pegawai, dapat dalam berbagai bentuk yang diberikan sebagai timbal balik atas pekerjaan yang telah dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi/perusahaan yang ditentukan. Pengadaan kompensasi  mempunyai beberapa tujuan utama ; menarik pelamar kerja potensial, mempertahankan karyawan yang baik, meraih keunggulan kompetitif, meningkatkan produktifitas, melakukan pembayaran sesuai aturan hukum, memudahkan sasaran strategis, mengokohkan dan menentukan struktur organisasi.

Bentuk pemberian kompensasi dapat berupa moneter (uang) atau non moneter (karier, penghargaan, status dll). Kompensasi dapat menguntungan kedua belah pihak (organisasi dan pegawai), karena sama – sama untung dan mendapatkan kepuasan. Peranan lingkungan internal dan eksternal organisasi akan mempengaruhi besarnya kompensasi yang diberikan kepada pegawai. Hal ini harus benar-benar diperhatikan oleh organisasi agar terjadi keseimbangan dan keadilan sehingga suasana kondusif tetap terjaga.

Guru sebagai pegawai dalam satuan organisasi bidang pendidikan memegang peranan penting dalam kemajuan suatu bangsa dan negara. Sebagai pekerja, pendidik dan tenaga kependidikan mempunyai motif dan kebutuhan tertentu dan mengharapkan kepuasan dari hasil pekerjaannya. Kebutuhan yang dipuaskan dengan bekerja sebagai pendidik dan tenaga kependidikan sama dengan kebutuhan yang dipuaskan pada profesi yang lain seperti; kebutuhan fisik dan keamanan, Kebutuhan sosial, dan Kebutuhan egoistik.

 Kepuasan-kepuasan tersebut ada yang dinikmati di luar pekerjaan, disekitar pekerjaan, dan lewat pekerjaan. Kebutuhan fisik terpuaskan di luar pekerjaan, kebutuhan sosial terpuaskan melalui hubungan pribadi disekitar pekerjaan, sedangkan hubungan egoistik terutama terpuaskan melalui pekerjaan. Status adalah kebutuhan sosial, tetapi status yang diperoleh dari jabatan penting, sama-sama dinikmati baik di luar maupun di dalam pekerjaan.

            Keadilan kompensasi sangat penting diperhatikan oleh manajemen organisasi. Keadilan kompensasi mengacu pada berapa bayaran yang diyakini pantas  dalam hubungannya dengan berapa bayaran yang terjadi secara umum. Dan kepuasan terhadap tingkat bayaran terkait dengan perbedaan-perbedaan tingkat bayaran pegawai pada tingkat yang berbeda-beda dalam organisasi atau perusahaan. Adapun praktek administrasi bayaran, pertama organisasi harus berusaha menetapkan bayaran suatu jabatan sama dengan bayaran yang berlaku di organisasi lain, kedua terwujudnya filosofi nilai bayaran setara dengan nilai jabatan, ketiga sistem bayaran untuk kinerja harus disertai dengan metode pengukuran yang akurat, kempat evaluasi tingkat bayaran dan struktur bayaran harus dilakukan up date secara periodik, kelima kepercayaan dan konsistensi harus selalu dipelihara.